Heycometomyworld’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Meneropong Sifat Pria dari Cara Tidurnya July 9, 2009

Filed under: Relationship — heycometomyworld @ 4:11 am

Saat tertidur, laki-laki nggak bisa bohong. Dia cenderung memilih posisi tidur yang paling nyaman. Nah, konon cara tidur ini merupakan  indikator terkuat sebab dengan posisi seperti itu biasanya dia merasa paling nyaman, kata Samuel Dunkell, M.D., direktur Insomnia Medical Services di New York City, yang mempelajari keterkaitan antara posisi tidur dan kepribadian.

Kalau penasaran, mari intip saja. Terus sesuaikan deh dengan cara tidur pasangan:

1. Posisi bayi
Laki-laki yang suka posisi tidur seperti bayi dalam kandungan ini biasanya peka dan mudah tersinggung. Dia selalu menjaga hatinya. Biasanya dia memeluk bantal sebagai teman tidur demi keamanannya. Ini mengindikasikan laki-laki tersebut butuh jaminan perasaannya mendapat balasan sama dari perempuan yang diincarnya sebelum dia memutuskan untuk meneruskan sebuah hubungan.

2. Wajah hadap bantal
Jika si dia suka tidur dengan wajah menghadap bantal dan perutnya sebagai tumpuan mengindikasikan dia punya semangat dan energi. Dia jenis laki-laki yang tepat waktu dan cenderung mudah meraih kesuksesan. Posisi tidur seperti ini mengindikasikan dia seseorang yang suka mengendalikan pasangan.

3.  Posisi miring
Laki-laki yang hobi tidur dengan posisi ini cenderung pola hidupnya serba teratur dan rasional. Sementara posisi semi fetal ini hanya mengambil sedikit jatah tempat tidur, dia cenderung menjadi seorang pemberi saat bercinta.

4. Telentang
Laki-laki yang tidur dengan wajah dan badan menghadap ke atas cenderung punya rasa percaya diri yang tinggi dan mungkin cenderung menjadi sombong. Kenapa demikian? Dari posisi tidurnya saja terlihat, dia menguasai seluruh tempat tidur dengan badan terekspos sedemikian rupa. Dia ingin menjadi pusat perhatian. Kabar baiknya: Dia orang yang terbuka dan mau mencoba hal-hal baru, baik di tempat tidur atau di luar sana.

Nah, intip saja posisi tidur sang pacar kalau penasaran sifat sejati dia kayak apa.

Advertisements
 

Rahasia Praktis Hidup Selaras di Kehidupan Urban August 21, 2008

Filed under: Relationship — heycometomyworld @ 3:50 pm

Sepanjang pengalaman sebagai psikolog, saya berjumpa dengan orang-orang. Dari perjumpaan itu, ada banyak cerita yang ditumpahkan kepada saya. Ada yang berisi keluhan, ada yang berisi impian, ada dambaan, ada yang merupakan buah permenungan. Dan ternyata sebagian besar berkaitan dengan hidup, bagaimana menjalani kehidupan sepenuh-penuhnya dan meraih bahagia.

Dari banyak percakapan yang terjadi, dua hal di atas menjadi isu mendasar yang tidak pernah basi untuk diangkat ke permukaan. Sebagian besar dari kita menghayati bahwa hidup ini hanya ada satu kali. Karenanya yang satu kali ini akan ideal sekali jika bisa diisi dengan makna yang kaya, djalani dan dinikmati dengan penuh bahagia. Bicara tentang makan hidup yang kaya, menjalani hidup dengan sepenuh-penuhnya di semua aspek hidup ini sejalan dengan pernyataan 100%. Kata 100% menjadi sebuah tolok ukuran mutlak, bulat, total, penuh yang sepenuh-penuhnya.

Menjalankan hidup secara berkualitas itu manifestasinya dalam hidup keseharian itu apa ya?

Pada dasarnya adalah pada bagaimana kita menata segala sumber daya yang kita punya. Mengapa kita perlu menata sumber daya yang kita punya adalah karena sumber daya ini memiliki keterbatasan. Mengapa? Karena oleh Tuhan kita diberi sumber daya dalam jumlah tertentu. Apa saja sumber daya yang ada pada kita? Diantaranya adalah bakat, kepintaran, ketrampilan, kesabaran, sifat, toleransi, dan lain sebagainya. Selain itu ada sumber daya lain yang juga sangat perlu kita kelola dengan baik, diantaranya adalah waktu, uang, tenaga, relasi kita dengan orang lain, daln lain sebagainya.

Energi, adalah salah satu sumber daya kita yang sifatnya terbatas, dan memiliki batas toleransi. Karena energi bisa rusak, hilang atau habis. Terutama jika pengelolaannya tidak bijaksana. Bagaimanapun harus disadari bahwa energi adalah bahan bakar kehidupan. Kita memang tidak bisa melihat, mencium, atau meraba energi. Tetapi kita bisa merasakannya. Kita bisa mendeteksi ada tidaknya energi dalam diri kita. Tanpa energi yang cukup kita tidak akan mampu menjalani hidup secara 100%.

Kita membutuhkan energi dalam jumlah tertentu untuk mampu berfikir tajam dan jernih, untuk berkonsentrasi. Kita membutuhkan energi untuk punya punya kekuatan dalam bekerja, untuk punya daya tahan tubuh dan stamina yang cukup, serta menjadi bugar. Sehingga kita bisa optimal dalam berkarya. Kita juga membutuhkan energi untuk mampu memelihara stabilitas emosi dan mood kita. DAn semuanya menjadi modal utama kita untuk dapat menjalankan hidup kita secara berkualitas.

Nah untuk mampu , menghimpun energi yang cukup demi membangun hidup yang berkualitas, apa saja yang perlu dikelola? Nomor satu adalah tubuh, fisik. Mengapa? Karena tubuh adalah wadah dari diri kita. Kita tidak mungkin eksis tanpa diri kita, tanpa tubuh kita. tubuh adalah hadiah langsung dari Tuhan ketika Ia memberi kita kehidupan. Itu sebabnya, merawat tubuh dengan sebaik-baiknya merupakan manifestasi dari penghargaan kita terhadap Tuhan dan kehidupan. Yang kedua adalah menata pikiran, hati dan perilaku. Mengapa? Karena pikiran, hati, dan perilaku memberi makna yang lebih bagi keberadaan diri kita. Mana yang duluan? Semuanya saling mempengaruhi satu sama lain dalam waktu yang bersamaan. Bagaimanapun, mind, body dan mood merupakan satu kesatuan, satu paket yang tidak terpisahkan. Mengelola ketiganya secara baik, akan membantu kita dalam menjalankan hidup kita di keseharian secara penuh.

Dalam upaya mengelola hidup dengan baik termasuk didalamnya mengatur waktu secara pas, kapan kita harus terus bekerja dan kapan harus beristirahat. Mengapa? Karena kita harus memahami betapa berharganya energi dalam diri kita, sekaligus betapa ada keterbatasannya. Dengan demikian kita perlu mampu bersikap waspada dalam mendeteksi kemungkinan terjadinya penurunan level energi kita. Ketika terjadi, apa yang perlu kita lakukan adalah melakukan recharging.

Recharging energy adalah suatu kebutuhan yang perlu disadari. Bagaimana caranya? Dengan beristirahat yang cukup, relaksasi, mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang baik, minum vitamin, berpikir dan hidup secara positif. (Ratih Ibrahim, psikolog)

 

Tanda-tanda Hubungan Asmara di Ambang Kehancuran July 3, 2008

Filed under: Relationship — heycometomyworld @ 3:32 pm

When it comes to breaking up, hindsight is 20/20. But wouldn’t it be nice if you could tell that you and your partner were headed for a falling out before it happened?

Fortunately, you can predict a break up. And with just a little bit of tweaking, you can get back on track and rescue your relationship before it hits the rocks.

Red Flag #1: Tuning Out
One of the most common reasons relationships fail is because one or both partners is tuning out. It might sound minor, but in actuality, few things are more hurtful than being ignored by your loved one, whether that is accompanied by emotional neglect or physical distance.

The Cure: Take Down the Wall
Tuning back in is easy. All you have to do is agree to listen to your partner’s feedback and dedicate time and emotion to the relationship again. Start taking down the emotional wall, brick by brick. Look at your partner in the eye when he or she speaks (even if it is not what you want to hear), make physical contact daily (even if it is just holding hands), and re-commit to the relationship.

Red Flag #2: Fighting Fire with Fire
Couples who fight fire with fire can expect a relationship that is constantly up in flames. Name-calling, sarcasm, criticism, and violence (from throwing things, slamming doors, to actual physical abuse) result in emotional wounds that are hard to heal and relationships that are hard to rescue.

The Cure: Pour Water on the Flames
The next time you feel anger guiding you to say, or do, things you might regret, take time to cool off. If that’s not possible, try framing your complaints as requests. For instance instead of, “Why did you forget our date?,” you could say, “I feel sad that you forgot our date. How can we make sure this doesn’t happen again?” If your partner is the one who is fanning the flames, don’t engage in the vicious cycle of insults and tantrums. You can’t fight fire with fire if the other person won’t engage in the flame-throwing.

Red Flag #3: Refusing to Own Up
No one is perfect, so why is it that some of us refuse to take responsibility in our most important relationships? Passing the buck and playing the victim are surefire ways to put a relationship in jeopardy.

The Cure: Take Responsibility for Your Actions
The next time you forget an anniversary, or say something hurtful to your spouse, don’t try to pass the buck and refuse to take responsibility. Instead, admit where you went wrong and try harder next time. Sounds simple… but it can save your relationship.

By making simple changes to the way you and your partner communicate, you can keep your relationship intact. All couples fight and argue, but it is how you fight and argue that determines whether your love can weather the storm. (yahoo.com)

 

Gay Sudah Ditakdirkan dari ‘Sononya’ June 20, 2008

Filed under: Relationship — heycometomyworld @ 1:18 pm

Satu lagi masalah orientasi seksual terjawab. Setidaknya untuk saat ini. Sebuah studi menegaskan bahwa orientasi seksual seseorang sudah dibentuk sejak dalam kandungan. Otak pria gay dan perempuan mirip dengan yang ditemukan pada orang heteroseksual dari lawan jenis.

Studi yang dilakukan di Swedia dan dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences,  Dengan menggunakan teknik scanning otak terhadap 90 relawan, para peneliti di Swedia mengatakan, laki-laki gay dan wanita heteroseksual memiliki otak yang sangat simetris.

Belahan kanan dan kiri otak memiliki ukuran yang hampir sama di kedua kelompok itu. Sementara laki-laki heteroseksual memiliki otak di mana belahan kanan ukurannya jauh lebih besar dari belahan kiri, hal yang menurut temuan itu juga terdapat pada otak perempuan gay.

Para ilmuwan Inggris mengatakan ini sebuah bukti bahwa orientasi seksual ditentukan sejak bayi dalam kandungan.

“Sejauh ini saya mencemaskan bahwa tidak ada lagi argumen, sekali Anda gay selamanya akan begitu karena sudah ditentukan sejak dalam kandungan,” ujar  Dr Qazi Rahman pengajar biologi kognitif dari University of London.

Para peneliti juga menemukan bahwa sistem syaraf di bagian otak yang mengendalikan reaksi emosi, mood dan kegelisahan laki-laki gay dan wanita heteroseksual sangat mirip.

Menurut para penulis laporan itu, penelitian itu tidak bisa membenarkan apakah ukuran otak manusia menentukan orientasi seksual atau apakah ukuran otak ditentukan oleh orientasi seksual.

Mereka juga tidak bisa membuktikan apakah perbedaan dalam struktur otak ini disebabkan oleh seberapa besar pembentukan hormon seperti testosteron di dalam kandungan.

Para peneliti berencana untuk melakukan penelitian lebih jauh terhadap otak bayi-bayi yang baru lahir guna menentukan apakah perbedaan struktur otak dapat digunakan untuk memperkirakan orientasi seksual mereka di masa depan

 

Apakah Anda Si Gila Belanja?

Filed under: Relationship — heycometomyworld @ 1:17 pm

Siapa yang tak mau jika diminta berbelanja, apalagi jika dibayari? Kita semua suka belanja, justru aneh jika Anda benar menjawab sebaliknya. Namun apakah belanja mampu membuat bahagia? Jawabnya relatif. Sebagian orang mengaku belanja sebagai wahana pelepasan stres atau bahasa kerennya shopping therapy. Nah, sampai kapan belanja dianggap sebagai terapi? Tentu jika belanja terkontrol. Jika terjadi sebaliknya dan terjadi di luar kendali, nah bukan terapi lagi namanya. Inilah shopaholic, seperti tokoh yang diciptakan Sophie Kinsela, yaitu Rebecca Bloomwood dalam sebuah novel larisnya ‘Pengakuan si Gila Belanja’. Beruntung Becky mendapat suami tampan nan kaya yang membantu memberesi dan menata problem keuangannya. Lantas bagaimana dengan kita yang cenderung memiliki pola sebagai si pemboros?

Menurut Donald Black, M.D., profesor psikiatri pada University of Iowa College of Medicine bahwa seseorang dikatakan memiliki kecenderungan berbelanja secara kompulsif dan boros bila ia sudah bersikap tidak pantas atau tidak tepat dalam berbelanja, eksesif dan tidak terkontrol. Seperti pada kecanduan lain kecenderungan ini biasanya didasarkan dengan mengikuti bisikan nafsu yang sulit dikendalikan. Di Amerika, kata Profesor Black, berbelanja sendiri sudah menjadi budaya, jadi sering nafsu itu muncul sebagai kebiasaan berbelanja berlebihan.

“Tak seorang pun tahu apa penyebab dari perilaku kecanduan,” ujar Ruth Engs, Ed.D, pofesor ilmu kesehatan di Indiana University. Menurut Engs sejumlah bukti baru menunjukkan bahwa untuk sejumlah orang, kira-kira 10-15% mungkin memiliki sebuah kecenderungan genetis untuk menjadi seorang pecandu, yang kemudian muncul karena dipicu oleh lingkungan sekitarnya. Namun tidak seorang pun benar-benar tahu mengapa orang bisa menjadi gila belanja. Leih lanjut Profesor Engs menjelaskan bahwa kecanduan belanja dapat menjadi masalah kronis.

 “Kecanduan belanja merupakan masalah berkelanjutan, dilakukan dua atau tiga bulan dalam setahun bahkan lebih,” ujar Engs.

Sekarang mari kita cek, bagaimana ciri seseorang dinyatakan gila belanja, barangkali Anda juga masuk daftar berikut:
1. Mengeluarkan uang melebihi anggaran yang sudah ditetapkan
2. Cenderung kompulsif, awalnya hanya ingin membeli sepasang sepatu ata sekadar window shopping koleksi terbaru, namun kemudian malah membeli tiga hingga lima pasang sepatu yang sejatinya tidak begitu dibutuhkan.
3. Suka menyembunyikan barang yang dibeli. Mirip dengan pecandu alkohol yang suka menyembunyikan minuman yang mereka beli kan? “Si gila belanja akan menyembunyikan barang yang mereka beli karena tidak ingin orang lain mengetahui dan kemudian mengritiknya,” ujar Engs. Mereka ini mungkin juga memiliki artu kredit ‘rahasia’ yang tidak diketahui orang lain, bahkan pasangan. Tiba-tiba datang tagihan dalam jumlah besar acapkali akan menimbulkan konflik yang berujung pada perceraian.
4. Merasa bersalah. Hal ini umum ada pembelanja yang boros. Sayangnya, rasa bersalah itu membuatnya tidak bahagia dan untuk medapatkan ‘kebahagiaan’ mereka akan berbelanja lagi, bahkan lebih gila-gilaan. Jadilah seperti lingkaran setan tiada akhir.
Jika ciri-ciri itu cocok dengan Anda, mulailah sadar diri. Solusinya?
1. Mulailah mengakui bahwa Anda cenderung berbelanja secara kompulsif
2. Singkirkan semua buku cek, kartu kredit, kartu debit dan alat belanja plastik lainnya setiap Anda hendak bepergian. Cukup bawa dana tunai secukupnya
3. Selalu membawa teman saat belanja. Minta teman mengingatkan atau membawa Anda pergi dari mal saat Anda menunjukkan tanda-tanda belanja berlebihan
4. Mulai sekarang isi waktu luang Anda dengan kegiatan lebih positif misalnya mengikuti kursus bahasa asing yang belum dikuasai, atau menjadi kontributor sejumlah media jika Anda pintar menulis. Atau jika punya uang tapi ingin menghentikan kebiasaan kurang sehat, ditabung saja atau sumbangkan ke mereka yang kurang beruntung, seperti panti asuhan. Lega sekaligus beramal. Rasanya itu tak terkatakan lho…