Heycometomyworld’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Manfaat Apel untuk Ibu Hamil December 8, 2009

Filed under: Pregnancy — heycometomyworld @ 4:38 pm
Tags: , ,

Siapa yang tidak kenal buah apel? Warnanya yang merekah atau hijau segar dengan rasanya yang manis tentu membuat siapa pun yang melihat ingin mencicipinya. Apalagi di dalamnya terkandung banyak vitamin dan mineral yang baik bagi kesehatan. Tidak heran jika ada ungkapan yang berbunyi an apple a day keeps the doctor away.

Ternyata, selain baik bagi kesehatan anak kecil hingga manula, buah apel juga dipercaya baik untuk ibu hamil. Penelitian yang dilakukan di Belanda menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi apel selama masa kehamilan dapat melindungi bayinya dari penyakit asma dan gejala serupa lainnya.

Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang ibunya mengonsumsi lebih dari empat apel setiap pekan mengalami penurunan risiko ganggguan pernapasan sekitar 37 persen dan penurunan risiko menderita asma 53 persen, dibandingkan dengan para ibu hamil yang tidak mengonsumsi satu atau tidak sebuah pun apel setiap pekannya selama masa kehamilan.

Menurut penelitian tersebut, buah apel mengandung fitokimia yang dapat memberikan dampak positif pada paru-paru orang dewasa.

Mulai sekarang gantilah cemilan tidak sehat Anda dengan buah apel yang kaya manfaat ini. Selain kaya dengan vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan Anda, si kecil di dalam perut pun akan ikut menjadi sehat lho! (www.hidupgaya.com)

Advertisements
 

Cegah Wasir Saat Hamil July 9, 2009

Filed under: Pregnancy — heycometomyworld @ 7:56 am

Salah satu gangguan kesehatan yang suka muncul saat kehamilan adalah wasir atau ambeien. Ini merupakan pembengkakan dan inflamasi (peradangan) vena di anus dan rektum, yang biasanya terasa nyeri.

Wasir muncul  akibat sering mengedan saat buang air besar (BAB) atau peningkatan tekanan vena akibat bendungan rahim yang membesar atau penyebab-penyenan lainnya. Pada kehamilan munculnya tersering pada trimester ketiga atau kehamilan lanjut.

Gejala wasir biasanya berupa perdarahan saat BAB, bisa sedikit bisa banyak, gatal atau rasa iritasi di sekitar anus, nyeri, pembengkakan sekitar anus, serta adanya benjolan di sekitar anus.

Pada kondisi wasir, pembuluh vena di sekitar anus membesar akibat meregang akibat peningkatan tekanannya, sehingga berbentuk benjolan atau membengkak. Hal-hal yang dapat menyebabkan meningkatnya tekanan vena antara lain: BAB yang keras (mengedan), nongkrong di toilet terlalu lama, diare kronis, konstipasi, obesitas, kehamilan dan  seks anal.

Faktor keturunan juga memegang peranan dan semakin berumur maka kecendrungan makin tinggi karena semakin lemahnya kekuatan jaringan tubuh.

Pada kehamilan, di samping akibat adanya bendungan vena oleh pembesaran rahim, faktor konstipasi juga sering menyebabkan dan memperberat wasir.

Berita baiknya wasir akan hilang/membaik setelah bayi lahir. Jika ibu hamil mengalami wasir, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya, antara lain:
1. Gunakan baking soda (basah atau kering) guna mengurangi rasa gatal
2. Berendam dengan air hangat yang telah diberikan baking soda
3. Hindari duduk terlalu lama
4. Gunakan pad khusus (medicated pad)

Untuk mencegah wasir, yang bisa dilakukan adalah menghindari penyebabnya, misalnya dengan mencegah konstipasi/sembelit. Karena saat sembelit, orang cenderung mengedan saat BAB.

Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah konstipasi antara lain makan tinggi serat, banyak minum air, minum jus buah prem, jangan menahan BAB, serta makan banyak sayuran dan buah. Senam Kegel juga membantu karena dapat melancarkan aliran darah di sekitar anus.

Semoga berguna ya.

 

Bayi Tabung Tidak Perlu ke Luar Negeri Lagi August 20, 2008

Filed under: Pregnancy — heycometomyworld @ 4:00 pm

Kurang lebih 10%-15% dari pasangan usia subur mengalami masalah infertilitas, dimana penyebabnya bisa dari pihak laki-laki, wanita atau dari kedua-duanya, ataupun dari sebab yang tidak diketahui. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 50 juta hingga 80 juta pasangan usia subur memiliki kesulitan mendapatkan keturunan. 

 

Ketidaksuburan (infertilitas) ini merupakan keadaan yang sangat merisaukan kedua pasangan bahkan keluarganya. Juga memerlukan penanganan yang terpadu, waktu khusus dan biaya yang besar. 

 

Menurut dr. Indra NC Anwar, SpOG dari Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit, seseorang dinyatakan infertil atau kurang subur jika  dalam satu tahun pernikahan dengan hubungan suami-istri usia produktif (di bawah 35 tahun) secara teratur tanpa alat kontrasepsi tetapi belum hamil juga. Jika usia pasangan suami istri (terutama istri) sudah di atas 35 tahun dan dalam tiga bulan pertama setelah melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa memakai kontrasepsi, masih belum hamil juga, maka segeralah untuk melakukan pemeriksaan ke ahli fertilitas. 

 

Berdasarkan data, infertilitas karena faktor istri mencakup 45%, meliputi masalah pada saluran telur (40%), ovulasi (15-25%), peritenium/endometriosis (25%), mulut rahim (5%) dan rahim (5). Sedangkan infertilitas karena faktor suami sekitar 40%, meliputi  kelainan pengeluaran sperma (3%), kelainan produksi dan pematangan sperma, penyempitan saluran mani karena infeksi bawaan (6%), faktor imunologik/antibodi, anti sperma (2,9%) serta faktor gizi. Faktor tidak terjelaskan (10-15%).

 

Di antara berbagai penyebab sulitnya pasutri mendapatkan keturunan, ternyata gaya hidup memegang peran dalam menyumbang angka kejadian infertilitas, yaitu sebesar 15-20%. Gaya hidup yang serba cepat dan kompetitif dewasa ini rentan membuat seseorang terkena stress. Kondisi jiwa yang stress bisa menyebabkan gangguan ovulasi, gangguan spermatogenesis, spasme tuba fallopi, dan disfungsi seksual yaitu menurunnya frekuensi hubungan suami istri.

 

Faktor kesehatan dan gaya hidup yang juga menyumbang pada kesulitan pasutri memiliki anak adalah malnutrisi, kegemukan atau sebaliknya terlalu kurus, kanker dan terapinya, merokok, konsumsi kafein berlebihan, konsumsi alkohol dan obat-obatan serta faktor usia.

 

Konsumsi alkohol pada wanita misalnya akan menekan produksi hormon estrogen dan progesteron serta meningkatkan prolaktin. Hal ini akan menghambat terjadinya proses ovulasi. Sedangkan pada pria, alkohol akan menyebabkan penurunan ukuran testis, menurunkan volume semen (air mani), dan menurunkan konsentrasi, motilitas serta morfologi normal dari spermatozoa. 

 

Pemakaian ganja, kokain, dan heroin pada wanita disinyalir menyebabkan gangguan sekresi gonadotropin dan prolaktin yang berujung pada terhambatnya ovulasi. Sedangkan pengaruh obat-obatan tersebut secara umum pada kesuburan pria adalah menekan sekresi gonadotropin yang berujung pada menurunnya biosintesa testosteron. dengan kualitas dan kuantitas testosteron yang menurun, yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas sperma.

 

Olahraga yang berlebihan bisa menyebabkan seorang wanita menjadi sulit hamil, karena mengganggu siklus haid berupa pemendekan siklus luteal dan amenorhea sekunder. Meski mekanismenya masih belum jelas mengapa olahraga berlebihan membuat wanita sulit hamil, namun diduga karena penurunan produksi gonadotropin, peningkatan produksi endorfin dan kortisol. 

 

Dr. Indra NC Anwar, SpOG menambahkan tren menunda usia perkawinan demi alasan mengejar karir yang marak belakangan ini  juga menjadi salah satu penyebab sulitnya pasutri mendapatkan momongan. Pada wanita kesuburan akan menurun sesuai bertambahnya umur. Mulai usia 35 tahun ke atas, kesuburan akan menurun dan akan terus menurun drastis pada usia di atas 37 tahun hingga akhirnya masuk ke masa menopause di atas 40-45 tahunan. ”Hal ini terjadi karena cadangan sel telur akan terus berkurang setiap wanita mengalami menstruasi dan lama kelamaan akan habis sehingga terjadilah masa menopouse dimana ovarium atau indung telur berhenti mengeluarkan sel telur,” ujar dr. Indra. 

 

Sebaliknya usia tidak dapat membatasi tingkat kesuburan pada seorang pria, karena berbeda dengan wanita yang hanya memiliki “gudang telur” dimana suatu saat akan habis, maka pria memiliki “pabrik sperma”. Sperma akan terus diproduksi tiap hari di testis selama anatominya normal. 

 

Untuk mengatasi masalah infertilitas, menurut dr Irsal Yan, SpOG, ada beberapa hal yang harus dilakukan pasutri, yaitu segera memeriksakan diri ke dokter. Jika penyebab infertilitas telah diketahui, segera lakukan pengobatan atau tindakan yang disarankan dokter. 

 

”Penanganan pasutri sebagai satu kesatuan merupakan tindakan yang paling baik dalam mengatasi masalah infertilitas ini,” tegas dr. Harijanto, SpOG, MM dari Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit.

 

Pada prinsipnya penanganan infertilitas ada dua macam, yaitu dengan pengobatan konvensional, atau dengan teknologi reproduksi berbantu. Pengobatan konvensional  antara lain dengan pemberian obat-obatan baik untuk tujuan menghilangkan faktor penyebab, memicu produksi sperma, memperbaiki pematangan sperma, memperbaiki transpor sel, dan mencegah kerusakan sel sperma. 

 

Untuk gangguan kesuburan akibat kerusakan atau kelainan anatomi di saluran telur bisa ditangani dengan operasi dan menunggu dalam jangka waktu 18 – 24 bulan. Jika gagal, maka bisa dicoba dengan teknik reproduksi bantuan baik melalui inseminasi atau bayi tabung.  

 

Bayi tabung disarankan untuk infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya dan telah ditangani lebih dari satu tahun. Untuk mendapatkan momongan dengan bayi tabung, tidak perlu lagi berobat ke luar negeri, karena di Indonesia sudah terdapat sejumlah klinik yang menangani masalah kesuburan dengan tingkat kesuksesan (success rate) nasional mencapai rata-rata 30%. Klinik Fertilitas Teratai sebagai salah satu klinik spesialis bayi tabung yang mencatat tingkat keberhasilan program bayi tabung di atas angka rata-rata nasional, yaitu 46,2%.

 

Menurut dr Indra NC Anwar, SpOG faktor pendukung yang membuat keberhasilan dari program bayi tabung antara lain faktor usia istri. Semakin muda usia istri maka semakin besar kemungkinan keberhasilannya, karena kemampuan wanita untuk hamil paling tinggi pada usia 24 tahun, kemudian menurun pada usia 25 tahun dan menurun drastis pada usia 35 tahun. ”Penurunan ini disebabkan berkurangnya jumlah dan kualitas sel telur di dalam indung telur terkait dengan pertambahan usia yang akan memengaruhi kesuburan dan menigkatkan risiko pada janin,” ujarnya seraya menambahkan wanita yang pernah hamil juga memperbesar kans keberhasilan bayi tabung.

 

Tingkat keberhasilan bayi tabung yang tinggi di Klinik Fertilitas Teratai tak lepas dari tenaga ahli yang sudah terlatih dan berpengalaman dalam menangani infertilitas dan juga didukung oleh peralatan dengan teknologi terkini. Selain itu untuk menambah kenyamanan pasien terutama untuk suami saat istri sedang melakukan ovum pick (petik ovum), suami dapat menyaksikan langsung melalui TV monitor dan transfer embrio dari ruang yang sudah disediakan. 

 

”Success rate Klinik Fertilitas Teratai yang mencapai di atas rata-rata nasional bergantung pada penentuan waktu operasi, dosis obat yang tepat, teknik protokol yang digunakan serta standar laboratorium sesuai dengan standar WHO,” ujar Yenti Suparman, Bisnis Manajer Klinik Teratai.

 

Program bayi tabung di Klinik Fertilitas Teratai dilakukan dengan dua metode yaitu  In Vitro Fertilisasi Konvesional (IVF) dan Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI) IVF Konvesional adalah suatu teknik reproduksi berbantu dengan mempertemukan satu sel telur (oosit) matang dari istri dengan 50.000 – 100.000 spermatozoa yang bergerak progresif dari suami di luar tubuh manusia agar terjadi fertilisasi / pembuahan. Sedangkan ICSI merupakan teknik reproduksi berbantu dengan cara menyuntikkan satu spermatozoa langsung ke dalam sitoplasma oosit agar dapat terjadi fertilisasi / pembuahan. 

 

“Jika dari hasil pemeriksaan pada akhirnya tim dokter ahli kami menganjurkan pasangan suami istri untuk melakukan program bayi tabung, maka tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah menghubungi Tim Konselling Klinik Teratai untuk mendapatkan penjelasan lengkap mengenai program apa yang akan diikuti,” ujar dr. Harijanto, SpOG, MM

 

Sekilas mengenai Klinik Teratai

 

Klinik Teratai merupakan klinik fertilitas yang melayani pasangan suami istri yang ingin mempunyai anak, dengan memberikan konseling persiapan pengobatan fertilitas, baik secara medis, operatif, maupun teknologi untuk mencapai kehamilan. Klinik Teratai memiliki pakar dokter dan embryologist di bidang fertilitas dan bayi tabung yang menerapkan program In Vitro Fertilization Konvensional, yaitu mempertemukan sel sperma dengan sel telur di dalam cawan petri, dan Intra Cytoplasmic Sperm Injection, teknik reproduksi dengan cara menyuntikkan satu sperma hidup ke dalam satu sel telur. Selain itu juga Klinik Teratai memiliki fasilitas freezing embryo dan sperma baik dengan teknik Slow Cooling maupun Vitrification. Teknologi tersebut kini merupakan teknik reproduksi yang sedang trend dijalankan di dunia.

 

Ingin Melahirkan Caesar? Pikir Seribu Kali… July 3, 2008

Filed under: Pregnancy — heycometomyworld @ 12:09 pm

Anda sedang mengandung dan ingin melahirkan dengan cara Caesar. Alasannya sederhana: Ingin menentukan tanggal kelahiran sesuai yang dikehendaki. Hal lain yang jadi pertimbangan adalah tidak mau berlama-lama menjalani proses persalinan normal yang tak jarang makan waktu berjam-jam.

Baca dulu artikel ini sebelum Anda memutuskan Caesar sebagai jalan keluar.  Menurut dr. Andon Hestiantoro SpOG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia cara persalinan merupakan hal yang sangat penting karena sangat terkait dengan angka kematian dan angka kesakitan baik bagi ibu maupun bagi bayi yang baru dilahirkan.

Menurut dokter yang berpraktik di RS Tjipto Mangunkusumo ini persalinan dengan bedah Caesar terkait dengan risiko kematian ibu tiga kali lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal. Angka kematian langsung akibat persalinan Caesar adalah sekitar 5,8 per 100.000 persalinan. Persalinan dengan bedah Caesar memiliki angka kesakitan lebih tinggi yaitu sekitar 27,3% dibandingkan dengan persalinan normal yang hanya sekitar 9% saja.

Peningkatan risiko kesakitan bagi ibu hamil akibat persalinan Caesar yang dibandingkan dengan persalinan normal adalah sebagai berikut:

– Lima kali lebih besar untuk mengalami henti jantung

– Tiga kali lebih besar untuk dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi)

– Tiga kali lebih besar untuk mengalami infeksi masa nifas

– 2,3 kali lebih besar untuk mengalami komplikasi anestesi

– 2,2 kali lebih besar untuk mengalami sumbatan pembuluh darah

– 2,1 kali lebih besar untuk mengalami perdarahan banyak yang seringkali berakhir dengan pengangkatan rahim serta 1,5 kali lebih besar untuk lebih lama di rawat di rumah sakit

 

Menurut Andon, peningkatan risiko tidak hanya terjadi pada ibu, namun juga terjadi peningkatan risiko bagi bayi yang baru lahir terkait dengan cara persalinan Caesar. Risiko yang dialami oleh bayi baru lahir akibat persalinan Caesar antara lain risiko kematian, gangguan pernafasan, trauma dan risiko gangguan otak bayi.  “Risiko yang dialami bayi baru lahir terkait persalinan Caesar adalah 3.5 kali lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal,” tegas Andon.

 

Saat ini prevalensi (angka kejadian) persalinan Caesar di Amerika Serikat adalah sekitar 29.1%. Rata–rata prevalensi Caesar di negara lain di dunia adalah sekitar 5-15% . Sedangkan di Indonesia, persalinan Caesar di rumah sakit pemerintah sekitar 11-15% dan di rumah sakit swasta saat ini dapat mencapai 30-40%.

 

Sebenarnya persalinan Caesar tidak dilarang, asalka nada indikasi medis, misalnya untuk ibu yang mengalami eklampsia (kejang dalam kehamilan), panggul sempit, plasenta menutupi jalan lahir, kelainan jantung pada ibu, persalinan macet, perdarahan banyak selama kehamilan, infeksi dalam rahim, dinding rahim yang menipis akibat bedah caesar atau operasi rahim sebelumnya serta tumor di rahim, di indung telur atau di vagina yang menghalangi jalan lahir.

 

Caesar juga dilakukan antara lain jika bayi besar  padahal panggul ibu sempit, bayi letaknya sungsang atau melintang, kehamilan triplet atau lebih, janin kepala besar alias hidrosepalus serta gawat janin.

 

Saat ini terjadi kecenderungan lain untuk indikasi persalinan dengan bedah Caesar. Indikasi tersebut seringkali tidak sesuai dengan indikasi medis. Beberapa indikasi bedah Caesar yang tidak sesuai dengan indikasi medis adalah sebagai berikut:

1.       Faktor sosial:

a.      Suami terlampau cemas dan menganggap istrinya tidak sanggup melahirkan normal

b.      Suami kuatir vagina istri menjadi longgar

c.      Riwayat infertilitas

d.      Memilih waktu dan tanggal kelahiran

2.       Faktor pemahaman ibu hamil yang salah

a.      Lebih nyaman melahirkan dengan bedah Caesar karena tidak sakit

b.      Melahirkan Caesar lebih aman dibandingkan dengan persalinan normal

c.      Melahirkan Caesar bayi lebih pintar

d.      Kuatir untuk dilakukan vakum atau forseps pada persalinan normal

e.      Kuatir kepala bayi terjepit saat persalinan normal

 

Lahir normal berarti memberi perlindungan alamiah bayi baru lahir

Terdapat konsep bahwa selama proses persalinan normal akan terjadi transfer bakteri dari vagina dan usus ibu ke dalam usus bayi yang akan menyebabkan peningkatan koloni bakteri di dalam usus bayi dan bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi baru lahir. Manfaat lainnya adalah melindungi bayi baru lahir dari infeksi bakteri yang berbahaya, membantu proses pencernaan bayi baru lahir dan juga membantu untuk menghasilkan vitamin yang sangat diperlukan bagi bayi baru lahir tersebut. Proses ini merupakan proses perlindungan alamiah bagi bayi baru lahir. Proses transfer bakteri bermanfaat dari ibu ke bayi tidak akan terjadi jika persalinan dilakukan dengan cara bedah Caesar.

Transfer bakteri “baik” dapat pula terjadi dari ibu ke bayi melalui air susu ibu (ASI). Walaupun lebih lambat (tertunda), namun bayi yang dilahirkan dengan persalinan Caesar masih dapat memperbaiki koloni bakteri “baik” di dalam ususnya jika bayi memperoleh ASI.

Nah jelaslah jika persalinan Caesar tidak berdasarkan indikasi yang tepat, maka peningkatan prevalensi persalinan Caesar justru akan menimbulkan dampak negatif terhadap bayi yang baru dilahirkan. Terlebih jika bayi tidak lagi memperoleh ASI.

 

 

Metode Persalinan Berpengaruh pada Kesehatan dan Daya Tahan Buah Hati

Filed under: Pregnancy — heycometomyworld @ 9:43 am

Penelitian menunjukkan, bayi yang dilahirkan dengan metoda Caesar, membutuhkan waktu kira-kira enam bulan untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi lahir normal, sehingga bayi Caesar memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit.

Hal itu dijelaskan oleh Professor Patricia Conway dari University of New South Wales, Australia, dalam acara seminar “Metode Persalinan Berpengaruh pada Pembentukan Mikrobiota Saluran Pencernaan dan Kekebalan Tubuh Buah Hati” di Hotel Gran Melia, Jakarta (3/7).

Dikatakannya bahwa saluran cerna penting artinya bagi kesehatan tubuh manusia. Fungsi utama saluran cerna adalah mencerna dan menyerap zat gizi agar kebutuhan tubuh dapat terpenuhi.

Pada saluran cerna yang sehat mukosa usus mampu menyerap mikronutrien penting dan menolak toksin serta patogen. Dua pertiga sistem kekebalan tubuh berada dalam saluran cerna.

Saluran cerna yang sehat banyak didominasi oleh koloni bakteri baik yang lazim disebut probiotik. Untuk berfungsi optimal, probiotik harus dikonsumsi dalam keadaan hidup dan tetap hidup mencapai saluran usus dalam jumlah yang mencukupi, yaitu 106-108 koloni/ml.

Agar probiotik di saluran cerna mampu tumbuh dan berkembang dengan baik dan mengenyahkan dominasi  bakteri jahat, maka dibutuhkan prebiotik yang berfungsi sebagai makanannya. Prebiotik adalah senyawa oligosakarida atau peptida yang tidak dapat dicerna dengan segera sehingga dalam saluran usus mendukung pertumbuhan probiotik.

Rahim ibu bebas kuman

Bayi, saat lahir meninggalkan lingkungan nyaris bebas kuman di dalam kandungan, dan memasuki dunia luar yang serba terkontaminasi, sehingga membutuhkan daya tahan cukup untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi mikroorganisme. Walaupun sistem imun mukosa usus telah matang pada bayi yang lahir cukup bulan, namun fungsi perlindungan usus memerlukan rangsangan kolonisasi bakteri pada awal kehidupannya. Rangsangan kolonisasi bakteri pada awal kehidupan bayi ini memegang peran penting dan berdampak pada daya tahan tubuhnya kelak

Terkait dengan hal itu, metode persalinan menentukan jenis mikrobiota yang nantinya akan menghuni usus anak, kata Professor Patricia Conway di hadapan sejumlah dokter spesialis kebidanan dan kandungan anggota POGI Jaya yang diundang PT Nestle Indonesia. 

“Model persalinan mempengaruhi perkembangan mikrobiota usus, yang selanjutnya akan berdampak pada daya tahan tubuh anak,” ujarnya. 

Metode persalinan yang umum adalah persalinan normal (melalui jalan lahir ibu) dan bedah Caesar (proses kelahiran yang bukan dari jalan lahir normal, yaitu dengan cara menyayat bagian bawah perut hingga rahim). Beberapa tahun terakhir, jumlah ibu yang memilih melahirkan dengan cara Caesar meningkat signifikan. Di Amerika Serikat misalnya angka kelahiran Caesar meningkat lebih dari 40%, di Eropa 30%, Amerika Latin dan sebagian negara Asia mencapai 50% sejak 1996. 

Saat baru lahir, saluran cerna bayi lahir normal nyaris steril, bebas kuman. Pada proses persalinan normal, bakteri dari ibu dan lingkungan sekitar membentuk kolonisasi pada saluran cerna anak. Pada persalinan normal, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan luar melalui proses yang lama yang melibatkan kontraksi berjam-jam. Sebagai imbasnya bayi kontak secara alami dengan mikroflora normal ibu dan kemudian mikrobiota itu berkoloni di ususnya. Mikrobiota pada saluran cerna bayi yang baru lahir yang yang memegang peran utama mengaktifkan sistem kekebalan adalah kelompok Bifidobacteria dan Lactobacilli. 

Sebaliknya pada bayi yang lahir Caesar, proses persalinan dilakukan di ruangan steril. Bayi diambil langsung dari rahim ibu tanpa kontak dengan area rektum dan vagina ibu, jadi tidak ada kesempatan kontak dengan mikrobiota normal di jalan lahir. Selain itu, untuk menghindari infeksi pascaoperasi, ibu biasanya diberi antibiotik yang disalurkan ke bayinya melalui plasenta. Akibatnya kolonisasi bakteri menguntungkan (probiotik) di saluran cerna terhambat. Padahal inisiasi koloni bakteri yang diperoleh bayi saat persalinan normal berpengaruh kuat pada perkembangan dan pematangan sistem kekebalannya. 

Karena tidak terjadi kontak dengan jalan lahir ibu, yang sebenarnya merupakan ‘modal awal’ sebagai senjata ketahanan tubuh, bayi yang terlahir melalui bedah caesar memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi dan penyakit alergi.  

Peran Air Susu Ibu (ASI)

Pada bayi lahir normal yang diberi ASI (air susu ibu), bakteri probiotik mendominasi 99% mikrobiota usus. Pada bayi caesar yang juga mendapat ASI, bakteri baik ini kurang dominan, dan biasanya digantikan oleh bakteri jenis lain yang kurang diinginkan, yaitu Clostridium atau Enterobacter. 

Kekurangan bakteri probiotik berarti juga kurangnya ‘latihan yang cukup’ dari sistem kekebalan tubuh adaptif dan biasanya berpengaruh pada sistem imun terkait penyakit seperti alergi dan infeksi. Tidak heran, bayi yang kekurangan bakteri probiotik di ususnya lebih mudah sakit. 

Bayi lahir caesar butuh waktu beberapa lama, kira-kira enam bulan, untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi yang lahir normal. ‘’Hasil-hasil penelitian menunjukkan bayi-bayi yang dilahirkan secara caesar memiliki waktu pembentukan mikrobiota saluran cerna yang tertunda serta memiliki risiko terhadap berbagai jenis penyakit yang lebih tinggi,” ujar Prof. Conway 

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan dominasi bakteri baik di saluran cerna bayi:

  • Memberikan suplemen bakteri baik secara langsung
  • Mendukung pertumbuhan bakteri baik yang sudah ada di usus dengan pemberian makanan yang tepat

 ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi. Saat ini telah diketahui bahwa air susu ibu juga mengandung bakteri-bakteri yang menguntungkan (probiotik) di samping karbohidrat tertentu yang mendukung pertumbuhan Bifidobacteria. “Ini berarti bahwa ASI tidak hanya mendukung pertumbuhan bakteri yang menguntungkan tetapi juga mensuplai bakteri-bakteri menguntungkan tersebut secara langsung ke bayi,” tegas Prof. Conway.

 ASI terbukti mengandung komposisi zat gizi yang mendukung pertumbuhan bakteri baik (rendah protein, tinggi rasio whey/casein, tinggi kadar laktosa, rendah fosfat, dimana kondisi ini lazim disebut ‘bifidogenik’). Selain itu pada sejumlah penelitian terakhir terlihat bahwa ASI juga mengandung probiotik tertentu.

Tidaklah berlebihan jika ada pendapat yang menyatakan bahwa hadiah pertama lahirnya bayi ke dunia adalah bakteri dari sang ibu (baik dari rahim, jalan lahir dengan persalinan normal), dan ASI. Sayangnya, banyak bayi kurang mendapatkan ASI yang kaya probiotik dan mengandung prebiotik untuk menunjang kehidupan bakteri baik di saluran cerna,  misalnya bayi prematur dan bayi yang tidak mendapat ASI karena alasan tertentu (misalnya ibu menderita HIV/AIDS dan tidak boleh menyusui bayinya).

Kandungan zat gizi lain pada ASI, yaitu berupa asam lemak, ternyata dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan otak pada bayi prematur. Sedangkan pemberian ASI yang sangat minim akan membuat bayi menjadi mudah sakit dan memiliki kemampuan berpikir yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi lainnya yang diberi ASI dalam jumlah cukup.  

 

Kesehatan Pra-Pembuahan untuk Laki-laki June 21, 2008

Filed under: Pregnancy — heycometomyworld @ 3:38 am

Meskipun tidak hamil, namun laki-laki juga harus bertanggung jawab menjaga kesehatan dirinya pra-pembuahan. Saat mencoba memiliki anak, kesehatan yang baik penting artinya bagi laki-laki yang akan menjadi ayah. Karena calon ayah yang sehat dapat meningkatkan peluang pasangannya memiliki bayi yang sehat.

Sampaikan kabar ini kepada pasangan Anda, dan semoga bermanfaat:

1.  Kunjungi dokter keluarga untuk cek kesehatan secara umum

2.  Bicarakan dengan dokter mengenai jenis pengobatan yang sedang dijalani untuk menentukan barangkali ada di antara pengobatan itu yang berdampak paa kesuburan

3.  Cukup tidur dan jagalah konsumsi makanan sehat. Pastikan mendapat cukup asupan vitamin E dan seng

4.  Berhenti minum alkohol dan merokok, jangan sekali-kali menggunakan obat-obatan terlarang

5.  Jagalah selalu kesehatan testis. Hindari mengenakan celana dalam terlalu ketat atau terlalu lama berendam di kolam air panas.

 

 Semoga berhasil mendapat momongan ya!

 

 

 

Bepergian Tetap Nyaman Saat Hamil June 20, 2008

Filed under: Pregnancy — heycometomyworld @ 1:44 pm

Berencana melakukan perjalanan bersama keluarga atau mendapat tugas ke luar kota padahal Anda sedang berbadan dua? Sebelum memutuskan mengepak koper, sebaiknya bicarakan hal ini dengan dokter Anda. Kecuali kehamilan Anda bermasalah, umumnya ibu hamil aman-aman saja saat melakukan perjalanan.

Berikut ini beberapa tip agar perjalanan Anda terasa nyaman dan menyenangkan, kami kutip dari  American Pregnancy Association:

1. Melakukan perjalanan pada trimester kedua biasanya paling nyaman, setelah derita  morning sickness terlewati dan kelelahan yang dirasakan pada trimester tiga belum lagi menjelang.
2. Kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman. Pilih busana longgar dan alas kaki bersol datar.
3. Bawa benda-benda yang akan membuat Anda nyaman selama di perjalanan, seperti bantal dan kudapan kecil sebagai teman di jalan
4. Jika Anda berkendara, sering-seringlah berhenti untuk peregangan otot dan istirahat
5. Selalu bawa catatan kesehatan kehamilan selama di perjalanan. Anda tidak akan pernah tahu sampai hal itu dibutuhkan
6. Jangan lupa kenakan sabuk keselamatan dan patuhi instruksi keselamatan menggunakan transportasi apapun.

Nah, selamat bepergian, semoga selamat dan menyenangkan sampai tujuan.