Heycometomyworld’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Metode Persalinan Berpengaruh pada Kesehatan dan Daya Tahan Buah Hati July 3, 2008

Filed under: Pregnancy — heycometomyworld @ 9:43 am

Penelitian menunjukkan, bayi yang dilahirkan dengan metoda Caesar, membutuhkan waktu kira-kira enam bulan untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi lahir normal, sehingga bayi Caesar memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit.

Hal itu dijelaskan oleh Professor Patricia Conway dari University of New South Wales, Australia, dalam acara seminar “Metode Persalinan Berpengaruh pada Pembentukan Mikrobiota Saluran Pencernaan dan Kekebalan Tubuh Buah Hati” di Hotel Gran Melia, Jakarta (3/7).

Dikatakannya bahwa saluran cerna penting artinya bagi kesehatan tubuh manusia. Fungsi utama saluran cerna adalah mencerna dan menyerap zat gizi agar kebutuhan tubuh dapat terpenuhi.

Pada saluran cerna yang sehat mukosa usus mampu menyerap mikronutrien penting dan menolak toksin serta patogen. Dua pertiga sistem kekebalan tubuh berada dalam saluran cerna.

Saluran cerna yang sehat banyak didominasi oleh koloni bakteri baik yang lazim disebut probiotik. Untuk berfungsi optimal, probiotik harus dikonsumsi dalam keadaan hidup dan tetap hidup mencapai saluran usus dalam jumlah yang mencukupi, yaitu 106-108 koloni/ml.

Agar probiotik di saluran cerna mampu tumbuh dan berkembang dengan baik dan mengenyahkan dominasi  bakteri jahat, maka dibutuhkan prebiotik yang berfungsi sebagai makanannya. Prebiotik adalah senyawa oligosakarida atau peptida yang tidak dapat dicerna dengan segera sehingga dalam saluran usus mendukung pertumbuhan probiotik.

Rahim ibu bebas kuman

Bayi, saat lahir meninggalkan lingkungan nyaris bebas kuman di dalam kandungan, dan memasuki dunia luar yang serba terkontaminasi, sehingga membutuhkan daya tahan cukup untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi mikroorganisme. Walaupun sistem imun mukosa usus telah matang pada bayi yang lahir cukup bulan, namun fungsi perlindungan usus memerlukan rangsangan kolonisasi bakteri pada awal kehidupannya. Rangsangan kolonisasi bakteri pada awal kehidupan bayi ini memegang peran penting dan berdampak pada daya tahan tubuhnya kelak

Terkait dengan hal itu, metode persalinan menentukan jenis mikrobiota yang nantinya akan menghuni usus anak, kata Professor Patricia Conway di hadapan sejumlah dokter spesialis kebidanan dan kandungan anggota POGI Jaya yang diundang PT Nestle Indonesia. 

“Model persalinan mempengaruhi perkembangan mikrobiota usus, yang selanjutnya akan berdampak pada daya tahan tubuh anak,” ujarnya. 

Metode persalinan yang umum adalah persalinan normal (melalui jalan lahir ibu) dan bedah Caesar (proses kelahiran yang bukan dari jalan lahir normal, yaitu dengan cara menyayat bagian bawah perut hingga rahim). Beberapa tahun terakhir, jumlah ibu yang memilih melahirkan dengan cara Caesar meningkat signifikan. Di Amerika Serikat misalnya angka kelahiran Caesar meningkat lebih dari 40%, di Eropa 30%, Amerika Latin dan sebagian negara Asia mencapai 50% sejak 1996. 

Saat baru lahir, saluran cerna bayi lahir normal nyaris steril, bebas kuman. Pada proses persalinan normal, bakteri dari ibu dan lingkungan sekitar membentuk kolonisasi pada saluran cerna anak. Pada persalinan normal, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan luar melalui proses yang lama yang melibatkan kontraksi berjam-jam. Sebagai imbasnya bayi kontak secara alami dengan mikroflora normal ibu dan kemudian mikrobiota itu berkoloni di ususnya. Mikrobiota pada saluran cerna bayi yang baru lahir yang yang memegang peran utama mengaktifkan sistem kekebalan adalah kelompok Bifidobacteria dan Lactobacilli. 

Sebaliknya pada bayi yang lahir Caesar, proses persalinan dilakukan di ruangan steril. Bayi diambil langsung dari rahim ibu tanpa kontak dengan area rektum dan vagina ibu, jadi tidak ada kesempatan kontak dengan mikrobiota normal di jalan lahir. Selain itu, untuk menghindari infeksi pascaoperasi, ibu biasanya diberi antibiotik yang disalurkan ke bayinya melalui plasenta. Akibatnya kolonisasi bakteri menguntungkan (probiotik) di saluran cerna terhambat. Padahal inisiasi koloni bakteri yang diperoleh bayi saat persalinan normal berpengaruh kuat pada perkembangan dan pematangan sistem kekebalannya. 

Karena tidak terjadi kontak dengan jalan lahir ibu, yang sebenarnya merupakan ‘modal awal’ sebagai senjata ketahanan tubuh, bayi yang terlahir melalui bedah caesar memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi dan penyakit alergi.  

Peran Air Susu Ibu (ASI)

Pada bayi lahir normal yang diberi ASI (air susu ibu), bakteri probiotik mendominasi 99% mikrobiota usus. Pada bayi caesar yang juga mendapat ASI, bakteri baik ini kurang dominan, dan biasanya digantikan oleh bakteri jenis lain yang kurang diinginkan, yaitu Clostridium atau Enterobacter. 

Kekurangan bakteri probiotik berarti juga kurangnya ‘latihan yang cukup’ dari sistem kekebalan tubuh adaptif dan biasanya berpengaruh pada sistem imun terkait penyakit seperti alergi dan infeksi. Tidak heran, bayi yang kekurangan bakteri probiotik di ususnya lebih mudah sakit. 

Bayi lahir caesar butuh waktu beberapa lama, kira-kira enam bulan, untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi yang lahir normal. ‘’Hasil-hasil penelitian menunjukkan bayi-bayi yang dilahirkan secara caesar memiliki waktu pembentukan mikrobiota saluran cerna yang tertunda serta memiliki risiko terhadap berbagai jenis penyakit yang lebih tinggi,” ujar Prof. Conway 

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan dominasi bakteri baik di saluran cerna bayi:

  • Memberikan suplemen bakteri baik secara langsung
  • Mendukung pertumbuhan bakteri baik yang sudah ada di usus dengan pemberian makanan yang tepat

 ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi. Saat ini telah diketahui bahwa air susu ibu juga mengandung bakteri-bakteri yang menguntungkan (probiotik) di samping karbohidrat tertentu yang mendukung pertumbuhan Bifidobacteria. “Ini berarti bahwa ASI tidak hanya mendukung pertumbuhan bakteri yang menguntungkan tetapi juga mensuplai bakteri-bakteri menguntungkan tersebut secara langsung ke bayi,” tegas Prof. Conway.

 ASI terbukti mengandung komposisi zat gizi yang mendukung pertumbuhan bakteri baik (rendah protein, tinggi rasio whey/casein, tinggi kadar laktosa, rendah fosfat, dimana kondisi ini lazim disebut ‘bifidogenik’). Selain itu pada sejumlah penelitian terakhir terlihat bahwa ASI juga mengandung probiotik tertentu.

Tidaklah berlebihan jika ada pendapat yang menyatakan bahwa hadiah pertama lahirnya bayi ke dunia adalah bakteri dari sang ibu (baik dari rahim, jalan lahir dengan persalinan normal), dan ASI. Sayangnya, banyak bayi kurang mendapatkan ASI yang kaya probiotik dan mengandung prebiotik untuk menunjang kehidupan bakteri baik di saluran cerna,  misalnya bayi prematur dan bayi yang tidak mendapat ASI karena alasan tertentu (misalnya ibu menderita HIV/AIDS dan tidak boleh menyusui bayinya).

Kandungan zat gizi lain pada ASI, yaitu berupa asam lemak, ternyata dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan otak pada bayi prematur. Sedangkan pemberian ASI yang sangat minim akan membuat bayi menjadi mudah sakit dan memiliki kemampuan berpikir yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi lainnya yang diberi ASI dalam jumlah cukup.  

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s