Sejak lama kita dikaburkan antara fakta atau sekadar mitos mengenai orgasme pada perempuan. Sekarang ini kepuasan perempuan banyak dikaji, tak heran jika para suami ingin membahagiakan pasangannya saat mencapai puncak bercinta, alias orgasme.
Banyak cara dilakukan laki-laki agar si wanita puas, beberapa di antaranya bahkan berusaha terlalu keras. Padahal jika laki-laki memahami, tak usah berusaha sekuat tenaga memuaskan pasangannya.
Kenapa para pria ini ‘ngotot’ ingin memuaskan pasangan? Semuanya tak lepas dari yang namanya mitos, yang dipercaya turun temurun sejak dahulu kala. Padahal belum tentu benar adanya. Nah, biar nggak salah lagi, mari kita cek mana yang benar, mana yang sekadar mitos yang menjerumuskan Anda. Pakar askmen.com menjelaskannya sebagai berikut:
1. Semua perempuan menginginkan orgasme G-spot
Hanya isapan jempol. Mungkin banyak perempuan ingin merasakan orgasme G-spot, siapa tahu, namun sebagian lain tidak menganggap penting hal ini. Bagi perempuan yang beruntung, dalam arti G-spotnya mendapat rangsangan, kesenangan seperti ini tak bisa dijabarkan kalau tak mau dibilang tidak menyenangkan. Rasanya seperti ingin berkemih (kencing) secepatnya, dan hal ini sungguh tidak lucu. Bahkan, untuk sejumlah kasus, orgasme G-spot bisa menyakitkan dan sama sekali tidak sexy seperti yang ditunjukkan di film biru itu. Intinya, tak semua perempuan menyukai rangsangan G-spot, walaupun sebagian lain mungkin amat menggilai hal satu ini.
2. Perempuan butuh mitra yang ahli agar orgasme
Sebagian laki-laki gemar memuji diri sendiri mengenai kemampuannya untuk membuat perempuan orgasme (dan keahlian Anda benar-benar dihargai), namun tanggung jawab untuk orgasme atau tidak sepenuhnya bergantung pada si perempuan. Sangat normal jika perempuan mengalami kesulitan mencapai vaginal orgasm, untuk itulah Tuhan menciptakan klitoris. Artinya: Perempuan tetap dapat mencapai orgasme luar biasa bahkan jika pasangannya belum terlatih sama sekali dengan pengetahuan amat terbatas. Usaha laki-laki memang berguna sih, namun jika perempuan gagal orgasme tak ada yang bisa disalahkan selain diri mereka sendiri. Kadangk ala perempuan juga merasa kelelahan sehingga gagal orgasme. Tak usah cemas, ini normal kok.
3. Perempuan butuh orgasme untuk dinikmati sendiri
Uh, sebuah mitos yang sayangnya banyak dipercaya orang sejak dahulu kala. Seks akan terasa menyenangkan, apakah mencapai orgasme atau tidak, itu bukan masalah bagi sebagian perempuan. Jika seks digabungkan dengan keintiman dan membuahkan orgasme hebat, itu bonus. Percayakah bahwa orgasme atau klimaks bukan harga mati? Saya sih percaya. sejumlah perempuan mengaku memilih acara foreplay (pemanasan sebelum acara inti) ketimbang seks yang sebenarnya dan orgasme. Kenapa? Karena kadang ciuman, pelukan dan perhatian lebih memuaskan ketimbang apapun yang terlihat di film biru. Jika hal ini dikombinasikan dengan kasih sayang bersama penetrasi yang tidak terburu-buru, sebagian besar perempuan akan merasa ‘sempurna’ begitu sesi bercinta usai.
4. Vaginal orgasm lebih baik dibanding clitoral orgasm
Mirip dengan pengandaian pilih apel atau jeruk, padahal Anda suka keduanya. Intinya, baik orgasme vaginal maupun klitoris sama-sama menyenangkan dan memuaskan. Banyak yang memitoskan kenikmatan orgasme vaginal, bahkan cenderung melebih-lebih. Padahal menurut survey hanya 30% perempuan pernah merasakan merasakan orgasme vaginal dan 30% lainnya tidak pernah mengalaminya. Ini artinya Anda berpeluang untuk mendapatkannya atau tidak sama sekali. Nah, konon perempuan lebih suka mengalami pengalaman orgasme via klitoris. Clitoral orgasm sangat hebat dan tidak ada alasan untuk mengasihani perempuan yang tidak mengalami rangsangan melalui vagina.
5. Perempuan tidak ejakulasi
Siapa saja masih percaya bahwa ejakulasi hanya milik laki-laki. Benarkah begitu? Perempuan bisa ejakulasi, tentu saja. Sebagian bahkan melakukannya dengan bertenaga dan lebih ber volume dibanding laki-laki. Memang hal ini pengetahuan relatif baru di komunitas ilmuwan, jadi penelitian masih harus dilakukan untuk mendukung klaim tersebut. Kita tahu bahwa perempuan ejakulasi melalui uretra, seperti laki-laki. Ejakulasi perempuan mengandung substansi yang sama dengan yang diejakulasikan laki-laki, dan materi ini diproduksi pada ‘prostat perempuan’ sebuah organ yang sangat serupa dengan prostat laki-laki, meski dalam ukuran lebih kecil. Perempuan tampaknya mengalami ejakulasi karena rangsangan langsung di G-spot (sejumlah ilmuwan meyakini G-spot ini sebenarnya rongga uretra), namun sayangnya tidak semua perempuan dapat mengalami ejakulasi. Jadi kalau pada akhirnya perempuan tidak ‘melenguh’ saat seks berakhir, jangan mengira mereka tidak menikmati seks. Cobalah lain kali.